Masyarakat dan Sejarah

Wong Cilik disebut-sebut acuh, Tidak!

Kembalikeakar.com – Waspada tetap, Ikhtiyar Tentu, Pasrah dan tawakkal sudah pasti. Campur aduk perasaan seperti itulah yang dirasakan masyarakat indonesia, sejak pertama kali diumumkan terdapat Covid-19 di Indonesia tanggal 2 maret 2020. Kebijakan pemerintah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini dirasa ampuh untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Berawal dari Ibukota Jakarta, hingga ke beberapa kota besar lainnya, kini hampir semua daerah menerapkan kebijakan serupa. Tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat.

Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga kini masih menjadi kontroversi dibeberapa kalangan. Khususnya kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Terdapat beragam cara masyarakat menyikapi virus yang berasal dari negeri ginseng ini. Mengikuti anjuran pemerintah atau tetap dijalanan.

”intinya tetap menjaga kebersihan, sering cuci tangan dan tetap waspada. Saya tetap keluar untuk menafkahi anak istri, kalau tidak keluar mau dikasih makan apa keluarga saya, toh kalau kenapa-kenapa insyaallah Syahid kan, cari nafkah”. tegas Pak maman

Bagi mereka yang tak ada pilihan, tetap keluar untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Berusaha untuk tidak khawatir dengan keadaan (baca juga Bertasawuf di masa-masa sulit pandemi covid-19).

Memang terasa berat dan beresiko tinggi. Namun, menjaga sisi kemanusiaan kita di tengah sedikitnya pilihan hidup merupakan sebuah kenaikan maqom spiritual serta ruhani yang hanya bisa dicapai sedikit sekali insan manusia. Bulan ramadan pun telah datang, tantangan fisik akan terasa semakin berat.

Qalam Ilahi mengajarkan kita untuk mengandalkan sholat dan sabar sebagai penolong. Pada puncak kesabaran, akan muncul solusi serta kelapangan. Sebuah janji bagi hamba-hamba yang telah berkomitmen pada kemanusiaan dan berkiblat pada hati nurani.

Baca juga:   Pentingnya Physical Exercise sebagai Remedi dalam Menjalani Karantina Covid-19 di Rumah

Bulan ramadan di tengah pagebluk akan terasa berbeda. Akan tetapi, melalui bulan ramadan bangsa ini akan terbantu dalam ketersediaan pangan maupun dalam pemutusan rantai Covid-19, apabila semua tetap secara bertanggung jawab melakukan ibadah mandiri di rumah.

Bapak pengobatan modern Avicenna atau yang lebih dikenal Ibnu Sina mengatakan

“Ketanangan separuh dari obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan”.

Stay safe bagi mereka yang tak ada pilihan untuk tetap turun kejalan. Doa kami bersama teman-teman yang berjihad mencari nafkah di luar sana. Kita memahami bahwa kalian di luar bukan karena sikap acuh dan gegabah, namun karena keberanian untuk terus menjaga sisi kemanusiaan kalian.

Editor:
Muhammad Faisal

#StaystrongIndonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button