web stats
Masyarakat dan Sejarah

Tugas Rumah Tangga adalah Tugas Kita Berdua

Kembalikekar.com – Iklan terfavorit saya setahun ini adalah sebuah iklan kecap yang memiliki tagline “Jadilah Suami Sejati yang mau bantu, Suami Sejati yang mau masak!”. Saat ini sudah ada beberapa versinya, mulai dari yang mengambil setting rumah daerah perkotaan sampai ke beberapa pelosok nusantara.

Adanya iklan kecap tersebut membuat saya penasaran tentang apa yang membuat produsen kecap ini menghabiskan begitu banyak dana produksi iklan yang mengangkat tema pembagian peran yang lebih setara dalam rumah tangga. Bukankah dalam masyarakat masih terdapat pandangan  bahwa istri selayaknya memasak dan melakukan pekerjaan domestik lainnya, meskipun mungkin dia juga bekerja.

Kita bisa melihat hasil penelitian Leli Ruspita (2012) pada 16 pasangan suami-istri aparatur sipil negara yang menemukan bahwa keterlibatan suami dalam urusan domestik sifatnya tidak rutin atau sekadar membantu saja. Keterlibatan tidak rutin ini pun hanya pada beberapa urusan domestik seperti membeli makanan, mengasuh anak dan menemani anak belajar.

Saya sendiri memang berpandangan bahwa pembagian tugas dalam rumah tangga penting, sehingga tidak semua urusan domestik menjadi tanggung jawab istri. Terlebih saat ini istri pun banyak yang membantu perekonomian keluarga dengan bekerja. Hal ini juga telah lama didorong oleh Komnas Perempuan dan banyak aktivis gender agar pasangan suami-istri menerapkan kesetaraan dan kerjasama dalam tugas rumah tangga.

Pandemi Covid-19, yang membuat kita mau tak mau bertahan tinggal di dalam rumah ini, membuat saya kembali teringat betapa pentingnya keberadaan iklan kecap itu bagi masyakarat kita.

Berawal dari beberapa status yang berseliweran di timeline facebook saya. Ada beberapa yang memamerkan kebahagiaan karena suaminya mau membantu memasak atau pekerjaan yang lainnya. Tidak sedikit juga yang berkeluh kesah karena bebannya makin bertumpuk, mulai dari mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah, melakukan pekerjaan domestik hingga tetap harus melakukan pekerjaan dari kantornya.

Baca juga:   Habis Bukber,  Terbitlah Ngabuburit Virtual

Sedangkan suami hanya berkonsentrasi mengerjakan tugas kantornya, tidak membantu urusan domestik sama sekali sehingga terkesan hanya pindah lokasi kerja saja.

Mungkin memang sudah saatnya terdapat pembagian peran yang lebih baik bagi suami dan istri yang tidak hanya gencar diserukan oleh para aktivis gender atau akademisi, namun juga pihak-pihak lain termasuk sektor swasta.

Mengapa demikian? Situasi pandemi ini tidak dipungkiri membuat banyak orang tertekan, baik suami, istri bahkan anak. Ketika ditambah dengan pembagian tugas yang memberatkan istri, maka potensi stres pada istri semakin tinggi. Tidak menutup kemungkinan akhirnya terjadi pertengkaran atau terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Lonjakan terjadinya KDRT di saat pandemi Covid-19 ini bukan dalam rangka mandramatisir keadaan. Lonjakan KDRT ini terjadi secara global sampai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, António Guterres, mengeluarkan himbauan bagi semua pemerintah untuk membuat pencegahan dan mengatasi kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian dari langkah penting dari rencana nasional untuk merespons Covid-19.

Dari pop-survey yang dilakukan oleh Sekolah Kembali Ke Akar tentang harapan dan kecemasan bulan pertama pandemi Covid-19, ditemukan adanya perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih menjaga kebersihan atau mulai memasak. Saya sangat berharap dari kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memasak makanan sendiri ini juga diikuti dengan kesadaran untuk berbagi dan bekerjasama dalam melakukannya.

Jika tugas rumah tangga adalah tugas berdua ini disadari dan dilakukan banyak pasangan, saya yakin timeline facebook saya akan dipenuhi foto-foto bahagia suami-istri memamerkan hasil kerja sama mereka, atau status bahagianya para istri yang memiliki suami yang mau membantu.

Urusan domestik adalah urusan istri semata adalah hasil dari konstruksi sosial kita pada jaman dulu. Konstruksi sosial ini tentu saja dapat kita rubah sesuai dengan konteks saat ini demi kesejahteraan keluarga itu sendiri.

Baca juga:   Akademi vs Pandemi

Editor:
Muhammad Faisal

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button