Berdikari

Berselancar di tengah badai

Belajar dari pengalaman hidup arsitek ternama Cosmas D. Gozali

Kembalikeakar.com – Pada tahun 2005, usaha saya terpecah dan saya harus menjalankan usaha saya seorang diri, itu merupakan suatu pukulan dan tantangan yang menegangkan bagi diri saya. Banyak orang yang mengatakan bahwa saya bukanlah siapa-siapa dan tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa dukungan orang penting dan berpengaruh di dalam bisnis saya.

Keraguan dan ketakuan menghantui pikiran saya, mengapa ? ya karena saya memang bukan siapa-siapa sih, nama tidak menjual, tidak punya koneksi , dana yang dimiliki  juga sangat terbatas,  sehingga rasanya saya pasti kalah bersaing. Kenyataan tersebut sangat menghantui pikiran saya.

Mengeluh atau menyalahkan orang lain, merupakan sebuah reaksi  yang  paling sering  dan termudah kita lakukan jika suatu hal terjadi tidak sesuai keinginan kita. Kenyataanya memang dalam hidup,  lebih sering harapan itu  tidak  mudah tercapai.

Mengapa demikian? karena  bertahan hidup, apalagi menjadi sukses di tengah bertambahnya penduduk dan kecepatan perkembangan dunia, membuat kita  kalah bersaing serta lelah dalam mengejarnya. Seolah-olah porsi kue itu semakin kecil dan semakin sulit didapatkan.

Untungnya saya tidak terlalu lama hanyut dalam gelombang badai keraguan itu. Saya sadar bahwa dalam situasi seperti  itu, yang di luar rencana kita, kita tidak punya kuasa, kita terlalu kecil untuk merubahnya, kita tidak mungkin mengatur pendapat orang lain serta meredakan badai.

Tapi yang saya tahu pasti adalah, saya punya kuasa atas pikiran saya sendiri, saya bisa mengatur apa yang saya pikirkan dan rasakan. Bersama dengan kesadaran  bahwa saya diberikan talenta dan kemampuan mengatur talenta tersebut, saya membangun kepercayaan diri.  Ibaratnya kalau kita sedang berselancar di tengah gelombang dan badai,  maka kitalah yang memegang kendali kemana arah selancar itu akan mengalir.

Baca juga:   Jangan kasih kendor! pertahankan kondisi prima selama pandemi Covid-19

Dengan keyakinan, saya belajar bagaimana memasarkan diri sendiri,  membuat perusahaan baru dengan  nama sendiri, karena yang saya jual adalah kemampuan diri saya, bukan hanya sekedar nama. Jadi saya yang harus menjadi objek yang dijual.

Saya mencari celah untuk bisa membedakan diri saya dengan orang lain, yaitu disiplin diri dan manajemen waktu. Sebuah ilmu yang telah saya pelajari selama saya kuliah dan masih merupakan kekurangan bagi banyak perusahaan di bidang kreatif.

Saya tahu bahwa kreatifitas saja tidaklah cukup, karena banyak orang lain juga mempunyai kreativitas tinggi bahkan lebih baik dari saya. Jadi saya harus mempunyai beberapa “point” lebih yang bisa membedakan saya.

Point lainnya,  saya seorang  pekerja keras dan pejuang, saya bisa bekerja  sampai 16 jam sehari, tanpa  terpikirkan kata lelah, yang ada hanyalah harus memberikan yang  terbaik. Prinsip saya, apapun yang saya lakukan untuk klien saya, saya anggap seperti saya lakukan untuk diri saya sendiri, tidak boleh dilakukan setengah hati.

Kejujuran kepada semua orang adalah hal yang mutlak, sehingga jika terjadi kesalahan yang dilakukan team, saya harus menanggung resiko tersebut, karena kepercayaan dan nama baik tidak bisa di beli, itu harus didapatkan.

Dalam waktu 3 tahun, tahun 2008, dimana terjadi resesi  ekonomi dunia, itu merupakan masa yang tersibuk yang pernah saya alami. Pekerjaan tak ada habisnya, setiap minggu meeting dengan klien, bahkan untuk mencapai target, saya sering kali bermalam di kantor bersama beberapa anggota team.

Sepertinya kata resesi ekonomi tidak berlaku bagi saya saat itu. Hal tersebut berlanjut terus sampai tahun 2012. Yaitu ketika saya mengeluarkan buku  tentang karya saya yaitu  “ Soul of Space “. Itupun terjadi secara kebetulan, karena saya mengkritik penerbit grup kompas Gramedia sebagai penerbit nasional terbesar yang menurut saya mempunyai kewajiban moral untuk mengangkat arsitek-arsitek lokal Indonesia, sehingga bisa menjadi panutan bagi mahasiswa dan arsitek muda.

Baca juga:   Podcast - Mata Pelajaran Indonesia Iso (Bisa) bersama Wulan Luthardt
Buku Soul of Space

Hal ini saya lontarkan, karena pada saat itu banyak arsitek muda kita merasa bahwa berkarir sebagai seorang arsitek di negeri ini tidak mempunyai masa depan, karena memang tidak ada contohnya. Atas kritikan saya itu, saya ditantang untuk menjadi contoh pertama.

Karena memang tujuan penerbitan buku tersebut adalah untuk berbagi ilmu, maka saya membuat program CSR, mencari perusahaan  yang mau membeli buku tersebut untuk di sumbangkan ke kampus-kampus yang mempunyai jurusan arsitektur, dan saat itu terkirimlah 500 eksemplar buku ke 72 universitas. Sejak saat itu, sepertinya lebih banyak lagi pintu-pintu yang terbuka untuk perjalanan hidup saya.

Kedepannya, situasi akan selalu berulang, hambatan akan selalu ada, saingan akan semakin banyak, tapi semua tergantung dari diri kita bagaimana kita melihatnya. Seperti di awal saya sampaikan, dengan bertambahnya penduduk, apakah kita melihat keadaan tersebut sebagai ruang persaingan atau justru “kebutuhan “ yang bertambah ? Segalanya mempunyai dua sisi , sebagai “hambatan” atau sebagai “tantangan “.

Jadi  tidak ada yang tidak mungkin, kita tercipta sebagai makluk yang tercerdas, yang memiliki akal logika dan kemampuan menguasai pemikiran kita. Pikiran itu ibaratnya magnet, kalau positif, maka dia akan menarik hal-hal positif juga, kalau negatif, maka hal negatif pulalah yg terjadi.

Maka dari itu,  marilah kita bersama membentuk energi positif  bukan hanya dalam berpikir tapi juga dalam bertindak,  karena kita bisa!  Jangan lupa untuk  berbagi serta bersyukur, karena dengan demikian, kita juga  akan selalu mendapatkan dari timbal balik dari orang lain. Kesombongan atas  kesuksesan tidaklah ada gunanya, karena  apapun itu juga,  semuanya  hanyalah pinjaman dari Yang Maha Kuasa.  Selamat berselancar!

Baca juga:   Berpikir kritis menghadapi kewajaran baru - new normal

Editor :
Muhammad Faisal

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button