Lingkungan Hidup dan Budaya

Ah, harusnya bukan “Selamatkan Bumi” tapi justru “Selamatkan Manusia”

Analisa lembaga riset Carbon Brief di Inggris menyatakan bahwa pandemic Covid-19 menyebabkan turunnya tingkat emisi global sampai dengan 5,5% dari tingkat emisi tahun 2019

Kembalikeakar.com – Tahun 2020 merupakan tahun yang saya nantikan, bukan hanya karena tahun ini didapuk sebagai ‘Super-Year for Nature’ secara global tapi juga karena tahun 2020 merupakan tahun penting bagi daerah di Indonesia.

Tahun ini akan diselenggarakan Pilkada serentak yang melibatkan 270 daerah di penjuru Indonesia. Sejak tahun lalu, strategi komunikasi sudah matang disusun bersama para ahli untuk mengaitkan kedua momentum tersebut agar daerah semakin yakin bahwa alam harus menjadi elemen penting dalam perencanaan pembangunan.

Satu hal yang tidak pernah saya duga – ternyata alam sendiri yang menjadi penggerak utama dari strategi komunikasi ini.

Sejak awal tahun hingga hari ini, alam terus membuktikan bahwa ia memiliki ‘super power’ yang lebih dahsyat dari narasi pembangunan apapun yang ditawarkan untuk Indonesia. Kekuatan super untuk membuat pola perilaku manusia seluruh bumi, termasuk Indonesia, mendadak jungkir balik lewat bencana alam dan pandemi.

Secara teori, Alan Weisman dalam tulisan bertajuk ‘Earth Without People’ dan Todd May dalam tulisan bertajuk ‘Would Human Extinction Be a Tragedy?’ menggoda pemikiran kita bahwa bumi sesungguhnya akan baik-baik saja tanpa manusia.

Hilangnya peradaban manusia tidak menghentikan bumi untuk tetap berputar pada porosnya. Sebaliknya, kita sebagai manusia justru masih betah dan membutuhkan bumi sebagai tempat tinggal, meski futuris Michio Kaku dalam The Future of Mind sudah menyusun skenario tarian balet spektakuler dengan tujuh putaran di udara yang akan kita gelar di Planet Mars nanti.

Hari Bumi 2020 adalah saat yang tepat untuk mulai menyusun strategi komunikasi baru yang bertujuan untuk memastikan bahwa manusia dapat terus tinggal di bumi – bukan jadi spesies punah seperti dinosaurus. Ini bukan lagi upaya penyelamatan bumi tapi penyelamatan manusia, kawan! Seorang pakar brand dan pegiat lokalitas #DoGood, Handoko Hendroyono, menyampaikan bahwa brand yang berhasil ‘bicara’ pada konsumen memiliki tiga unsur utama yaitu cerita, persona dan ritual.

Baca juga:   Peran paling penting seorang Ibu di Masa Pandemi

Dalam strategi baru ini, kita menempatkan bumi sebagai calon konsumen yang keberterimaannya terhadap ‘jualan’ kita tidak bisa dipaksa namun mutlak dibutuhkan untuk keberhasilan bisnis. Misi kita bersama adalah ‘menjual’ narasi bahwa manusia adalah spesies yang bermanfaat sebagai penghuni bumi kepada calon konsumen tersebut. Untuk skenario ini, brand kita adalah ‘Manusia Layak Huni Bumi’ (MLHB) – sebuah brand asli Indonesia. Bisakah kita gunakan pendekatan ini untuk gotong royong mengembangkan brand MLHB agar tidak diminta hengkang dari bumi?

Cerita: Solusi otentik apa yang dapat kita tawarkan?

Analisa lembaga riset Carbon Brief di Inggris menyatakan bahwa pandemic Covid-19 menyebabkan turunnya tingkat emisi global sampai dengan 5,5% dari tingkat emisi tahun 2019 – penurunan terbesar dalam sejarah. Sayangnya, kita harus mengurangi setidaknya 7,6% emisi setiap tahun sepanjang dekade ini agar temperatur bumi naik maksimal hanya 1,5 celsius.

Lewat tulisan yang terbit bulan lalu, koalisi global IUCN menyatakan bahwa menjaga hutan primer atau ‘perawan’ dengan fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati asli semestinya menjadi prioritas utama dunia untuk menurunkan emisi dan manusia dapat tetap hidup di bumi. Ekosistem gambut yang juga banyak ditemukan di Indonesia juga berpengaruh besar dalam upaya penurunan emisi – kebakaran lahan gambut tahun 2015 di Indonesia misalnya, menimbulkan hampir 16 juta ton CO2 per hari, lebih besar dari total emisi harian seluruh Amerika Serikat.

Sebagai brand asli Indonesia, MLHB harus punya cerita yang otentik dan hanya bisa ditawarkan oleh Indonesia. Disaat dunia kesulitan mencari solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang nyata, cerita MLHB justru dapat mengangkat kemampuan Indonesia khususnya daerah kaya hutan dan gambut untuk menunjukkan bahwa pembangunan lestari dapat dicapai dengan memanfaatkan alam sesuai daya dukung dan daya tampungnya bersama masyarakat melalui solusi konkrit berpeluang ekonomi.

Baca juga:   Pandemi Covid-19 dan Kesadaran HAM

Berbagai contoh produk hilirisasi basis alam seperti ekstrak albumin dari ikan gabus yang khas di daerah gambut, daun kelor yang dapat diolah menjadi super-food maupun upaya bisnis konservasi & restorasi gambut dapat menjadi contoh solusi berbasis alam yang dikembangkan oleh Indonesia untuk replikasi dunia.

Persona: Siapa ‘muka’ kita?

Agar unik, brand MLHB tidak boleh berhenti pada persona ‘tipikal’ pegiat lingkungan seperti seorang cendikiawan senior yang menyebarkan pengetahuan tentang alam melalui risetnya atau ‘ranger’ yang tetap patroli di hutan selama masa pandemi.

Bangsa Indonesia sesungguhnya kaya akan persona orang muda yang dapat kita ajak serta sebagai ‘brand ambassador’ MLHB. Para desainer yang mengembangkan label fashion dengan basis tekstil natural berkualitas tinggi, kumpulan arsitek yang berhasil menemukan rancang bangunan rumah tinggal dengan penggunaan energi efisien, tim pengacara korporasi dan ahli investasi yang berhasil merancang struktur model usaha masyarakat yang berdaya saing untuk berbagai produk lestari, kelompok sutradara, musisi dan ahli komunikasi yang berhasil membuat film inspiratif soal bumi, sampai para kepala daerah yang mampu menerbitkan kerangka kebijakan pendukung pembangunan lestari dimana lingkungan terjaga dan masyarakatnya sejahtera.

Semua latar belakang dan profesi dapat menjadi ‘brand ambassador’ MLHB selama berkontribusi pada alam. Di tahun 2020, di era saat nano influencers ternyata lebih unggul, diversifikasi persona akan membuat MLHB lebih dekat & dapat dipercaya oleh konsumen serta inklusif dengan jejaring luas yang lintas latar belakang.

Ritual: Tindakan & budaya apa yang diterapkan secara konsisten?

Agar brand MLHB berhasil, pengambilan keputusan manusia sebagai ‘brand ambassador’ untuk dapat hidup berdampingan dengan alam harus konsisten diterapkan. Tidak hanya gaya hidup pribadi seperti berkendara, penggunaan energi dan pola konsumsi, MLHB perlu konsisten mendorong pengambil kebijakan dan mekanisme penegakannya agar pola hidup manusia yang selaras dengan alam dapat diprioritaskan. Beberapa aspek yang harus diperjuangkan MLHB untuk Indonesia adalah:

  • Penggunaan lahan yang lebih efisien sehingga hutan, gambut dan ekosistem penting lainnya bisa terjaga
  • Menggunakan listrik yang 100% berasal dari energi bersih dan terbarukan, bukan lagi energi fosil
  • Penggunaan transportasi yang lebih efisien, sebaiknya bertenaga listrik dari energi bersih dan terbarukan
  • Bangunan dengan fungsi yang efisien untuk penggunaan energi dan tingkat polusi
  • Masyarakat Indonesia punya kapasitas untuk mampu terlibat aktif dalam memberikan solusi berbasis alam
Baca juga:   Mengubah Sudut Pandang Hidup di Masa Pandemi

Saat konsumen dapat mengakses informasi dan bahkan terlibat langsung dalam ritual dari suatu brand, maka akan tumbuh keberterimaan dan loyalitas terhadap brand tersebut. Perjuangan untuk berbagai prioritas diatas akan menjadi perjuangan bersama yang dapat dilakukan dengan gotong royong. Jangan lupa, ini kampanye penyelamatan manusia yang harusnya memang jadi milik semua dan dilakukan bersama.

Berhasil?

Bagi sebuah brand komersil, keberhasilan umumnya diperlihatkan dari kemampuan brand tersebut menghasilkan perputaran dana agar bisnis dapat berlangsung dan lebih lagi, berkembang lebih besar.

Untuk MLHB, secara kasat mata keberterimaan bumi sebagai ‘konsumen’ hanya bisa dilihat dari satu hal simpel – apakah manusia bertahan atau punah sebagai satu spesies dalam seribu tahun kedepan.

Akan tetapi, sebagai generasi yang konon hanya suka dengan gratifikasi instan, target keberhasilan saya lebih pendek – apakah setidaknya beberapa daerah di Indonesia sudah menjadi penggerak MLHB di hari bumi 2021 untuk yakinkan bumi? Kalau iya, berarti setidaknya masih ada harapan untuk perjuangan selanjutnya.

Gita Syahrani
Direktur Eksekutif Lingkar Temu Kabupaten Lestari

Editor:
Muhammad Faisal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button