Masyarakat dan Sejarah

Pesawat Kertas dan Imajinasi tentang Indonesia

Kembalikeakar.com – Semasa kecil, kita pasti pernah membuat pesawat-pesawatan dari kertas. Bagaimana serunya melipat kertas dengan sungguh-sungguh, kemudian sebelum diterbangkan, kita tiup ujungnya, seolah-olah dengan begitu, pesawat kertas kita akan terbang lebih tinggi. Kesenangan bercampur harap pesawat kertas terbang tanpa tersangkut di pohon.

Apakah kita bisa merasakan keseruan dan harapan yang sama ketika berimajinasi tentang Indonesia?

Berbicara tentang imajinasi Indonesia, bapak pendiri bangsa, Sukarno menaruh besar harapannya kepada generasi muda. Beliau berimajinasi, kelak Indonesia yang akan datang, dapat menatap gagah dunia dengan pikiran terbuka, toleransi dan rasa percaya diri, tidak malu pada bangsa lain.

Bung Karno percaya bahwa pembangunan karakter sedini mungkin dan gotong royong adalah dasar untuk menjadi bangsa besar.

Karakter dan gotong royong adalah kunci untuk menyatukan keberagaman bangsa Indonesia. Sebuah pemantik semangat, inisiatif yang harus dimulai dari generasi muda penerus bangsa.

Generasi Muda dalam Imajinasinya tentang Indonesia

Karakter generasi muda saat ini atau dalam teori generasi DR. Muhammad Faisal disebut dengan generasi phi, sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa variabel penyerta, salah satunya teknologi. Generasi phi lahir dan besar disaat internet sedang berkembang pesat.

Sebuah riset pernah dilakukan oleh Youth Research Partners, yaitu temuan bahwa secara global, internet ‘menarik’ generasi muda ke dalam ranah privasi dan cenderung menjadi anti sosial. Sebaliknya di Indonesia, internet dan sosial media justru menggerakan cikal bakal komunitas dan menjadi medium pertemuan offline.

Tidak adanya narasi baru pasca reformasi, melahirkan berbagai komunitas di Indonesia sebagai medium pencari jati diri. Beberapa tahun belakangan, muncul komunitas yang mencari kembali akar budaya keIndonesiaan.

Salah satunya komunitas Lir-ilir yang berkeliling di berbagi daerah di Indonesia untuk menelusuri sejarah nusantara.  Ada juga ada satu komunitas di Jawa Barat yang mencari filosofi budaya Indonesia dari alat musik karinding

Baca juga:   Tugas Rumah Tangga adalah Tugas Kita Berdua

Selain komunitas offline, berbagai cara juga dilakukan oleh generasi ini untuk menunjukkan rasa cintanya pada Indonesia. Melalui sosial media, seorang digital ilustrator muda bernama Naren, menggambar ulang Princes Elsa dan Princess Anna dari film Frozen menggunakan pakaian tradisional Palembang.

Princess Anna dalam balutan pakaian tradisional adat Palembang (source: @hellonaren)

Berkomunitas merupakan bagian dari gaya hidup generasi phi ini, juga tidak lepas dari karakter mereka yang peduli terhadap isu-isu sosial. Hal ini dapat dilihat dari berbagai gerakan yang digagas oleh komunitas dalam membantu sesama, terutama dalam masa pandemi covid-19.

Karakter dengan rasa empati inilah yang kemudian menjadi perasan dari nilai gotong royong. Nilai yang tertanam dari generasi ke generasi, terutama untuk generasi saat ini dimana gotong royong menjadi begitu relevan. Gotong royong bukan lagi sekedar wacana yang dulu sering ditemui pada buku pelajaan PPKn atau PMP.

Bulan Juni dikenal sebagai bulan Bung Karno; diawali dengan hari lahirnya Pancasila, kemudian peringatan hari lahir Bung Karno dan beliau wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Kini 50 tahun setelah wafatnya bapak bangsa, beliau mewariskan nilai yang sangat berharga, terjaga sampai generasi saat ini. Pengalaman bertahan di masa pandemi covid-19 akan menjadi sebuah memori kolektif yang akan selalu dikenang dan diwariskan ke generasi selanjutnya.

Sebagai generasi muda, marilah kita hargai bulan Bung Karno ini dengan mengamalkan nilai gotong royong, rasa bangga dan imajinasi bahagia tentang Indonesia di masa depan. Persis seperti imajinasi bahagia kita saat menerbangkan pesawat kertas ke tempat yang kita impikan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button