web stats
Berdikari

Sustainable Investment: Shaping tomorrow or sharing tomorrow?

Indonesia sebagai negara paling murah hati sedunia!

Kembalikeakar.comInvestasi. Mendengar kata ini tentu kebanyakan masyarakat langsung mengasosiasikannya dengan “uang” dan “keuntungan”. Hal ini sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, di mana investasi memiliki definisi sebagai “penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan”. Kalau tidak ada “cuan”, bukan investasi namanya, melainkan beramal.

Asosiasi ini pada akhirnya melekat dengan satu kata tanya, yaitu “siapa”: uang yang diinvestasikan ini milik siapa, diberikan untuk siapa, dan menguntungkan bagi siapa.

Kata “siapa” ini tentu mengarah pada sebuah subyek maupun objek, yang dalam konteks investasi dapat dihubungkan dengan manusia. Menariknya, sejarah mencatat manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai bagian dari komunitas, manusia terbiasa untuk berbagi apapun dengan sesamanya. Hal ini didukung dengan temuan ilmiah seperti American Psychologist Association yang menunjukkan bahwa “orang-orang merasa lebih baik memberi daripada menerima”.

Hasil studi ini pun relevan dengan CAF World Index 2019 yang menobatkan Indonesia sebagai negara paling murah hati sedunia! Barangkali, hal ini terjadi karena manusia mencari jati diri dan nilai dari investasi yang dilakukannya – kalau mengutip buku Dr. Muhammad Faisal, hal ini seiring dengan upaya generasi untuk kembali ke akarnya: tidak hanya menguntungkan bagi dirinya, tapi juga bagi sesamanya, yang sama-sama hidup dari dan menghirup udara yang sama yang disediakan bumi tercinta.

Berbagi bumi ini tentu memiliki banyak peluang dan tantangan. Apa yang terjadi di belahan dunia yang satu akan berpengaruh kepada bagian lainnya. Sikap terkecil satu manusia, akan berdampak bagi manusia lainnya – sebagai contoh, membuang sampah sembarangan di sungai Jawa Barat bisa mengakibatkan banjir di provinsi DKI Jakarta. Akan tetapi, berbagi dan menjaga kebersamaan bumi ini dapat kita lakukan tidak hanya dengan menjaga kebersihan/tidak membuang sampah sembarangan, hemat energi, atau menggunakan transportasi publik. Investasi hijau juga hadir sebagai solusi jitu dalam upaya mencintai bumi ini.

Baca juga:   Kompas Biasa VS Peta Canggih

Pada tanggal 4 November 2020, Pemerintah Indonesia menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) jenis sukuk tabungan seri ST-007, dengan kembali mengusung tema lingkungan (atau disebut dengan Green Sukuk Ritel) – di mana hasil penerbitannya dialokasikan khusus untuk kegiatan pembangunan proyek-proyek hijau atau ramah lingkungan milik pemerintah.

Pendahulunya, ST 006 telah mencatatkan rekor sebagai intrumen green sukuk ritel pertama di dunia, serta berhasil menjangkau lebih dari 7,700 investor individu dari seluruh provinsi di Indonesia, yang mayoritas merupakan generasi milenial. Tentu, di tengah masa krisis seperti saat ini, mulai berinvestasi yang menguntungkan bagi diri, sesama, dan bumi, menjadi sebuah keputusan penting. Dalam hal ini ST 007 dapat menjadi pilihan investasi yang cocok karena tingkat risikonya yang sangat rendah, dimana nilai pokok dan perolehan imbalannya terjamin 100 persen oleh negara.

Dengan modal investasi mulai dari 1 juta rupiah, kita sudah dapat menanamkan uang pada instrumen yang aman serta tentunya halal dan bebas riba (berbasis Syariah). Tidak hanya itu, kombinasi keunggulan unik dari instrumen ini – yakni ramah lingkungan dan menguntungkan, juga patut disorot. Berbicara soal dampak – jika mengacu pada laporan tahunan Green Sukuk pada tahun 2019 yang dapat diakses melalui situs web resmi Kementerian Keuangan, proyek-proyek yang didanai oleh Green Sukuk khususnya di sektor energi terbarukan, efisiensi energi, ketahanan terhadap perubahan iklim, pengelolaan sampah, dan transportasi berkelanjutan diproyeksikan dapat menurunkan hingga 3,2 juta ton emisi gas rumah kaca.

Selain penurunan emisi – pembangunan 691.4 kilometer rel kereta api yang menghubungkan berbagai daerah, 7,329 kilowatt kapasitas energi terpasang, dan lebih dari 2 juta rumah mendapatkan manfaat dari peningkatan pengelolaan sampahnya, juga merupakan bagian dari kontribusi dan dampak terukur dari Green Sukuk. Pendekatan yang sama akan dilakukan untuk Green Sukuk Ritel ST-007, di mana penggunaan dana serta dampak lingkungan dan sosial dari instrumen ini akan diukur dan dilaporkan setiap tahunnya melalui Green Sukuk Allocation and Impact Report – sebagai bentuk transparansi kepada publik bahwa penggunaan dana dari green sukuk ritel secara tepat diarahkan kepada investasi yang berkontribusi terhadap aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim nasional, sesuai dengan Green Bond/ Green Sukuk Framework Pemerintah Indonesia.

Baca juga:   Alih fungsi sebuah grup Whatsapp: Skema bertahan para UKM

Investasi hijau bukan berarti tidak menguntungkan. Dari sisi perolehan pribadi, dengan sistem imbalan yang mengambang dengan batas minimal (floating with floor) sebesar 5.5%, skema perhitungannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Nilai Investasi Minimal TIngkat Imbalan Nilai Perolehan Kesimpulan Sederhana
IDR 1.000.000 5.5% per tahun

Catatan:
Besaran kupon akan disesuaikan dengan perubahan tingkat suku bunga Bank Indonesia (mengambang).
Namun 5.5 % akan menjadi perolehan kupon minimal yang berlaku sampai dengan jatuh tempo (batas minimal).

IDR 55,000

Catatan:
Belum dihitung pemotongan pajak per tahun sebesar 15% (lebih rendah daripada pajak deposito sebesar 20% per tahun)

Dengan investasi IDR 1.000.000, dalam 2 tahun mendatang, Anda akan menjadi wakil/ pemilik aset hijau negara di sektor transportasi berkelanjutan dan ketahanan terhadap perubahan iklim yang memberikan dampak bagi bumi dan sesama.

Catatan:
Berdasarkan laporan dampak Green Sukuk 2020, penurunan emisi karbon pada proyek jalur kereta Trans Sumatera diproyeksikan sebesar 213,000 ton. Dalam kalkulasi sederhana & non-scientific, setiap investasi sebesar 1 juta rupiah pada instrumen ini berpotensi menurunkan emisi sebanyak +/- 2 ton.

2 ton ini diasumsikan setara dengan perjalananJakarta Bandung sebanyak 56 kali atau menanam sebanyak 200 pohon manggis.

Hitungan dan kesimpulan di atas selaras dengan aspirasi kaum milenial, dimana 93 persen-nya mengambil keputusan investasi berdasarkan dampak lingkungan dan sosial (US Trust, 2013). Lebih lanjut, hal ini juga didukung oleh temuan dari studi yang dilakukan oleh UNDP mengenai Green Sukuk Ritel di Indonesia berdasarkan penerbitan ST 006. Studi ini menganalisis secara komprehensif hasil, dampak, serta prospek yang mendasari penerbitan Green Sukuk Ritel. Salah satu hasil dari studi ini menunjukkan adanya sinyal permintaan yang kuat akan instrumen hijau semacam ini ke depan, yang antara lain dikarenakan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya milenial, akan pentingnya dampak investasi yang mengakselerasi capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia serta meningkatnya aksesibilitas dari instrumen keuangan hijau itu sendiri. Dalam hal ini,  tingkat imbalan yang ditawarkan tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan investasi.

Saat ini ST 007 sudah memasuki periode penawaran sampai dengan 25 November 2020 mendatang, dan dapat diakses melalui 31 mitra distribusi pemerintah secara praktis dan mudah melalui sistem elektronik (daring) seperti internet banking. Marilah berinvestasi secara cerdas dan bijak. Selayaknya pohon, biarkan investasi kita bertumbuh lebat menghijaukan sekitar dan membawa berkah bagi diri sendiri dan sesama, khususnya untuk mendukung pemerintah dalam upaya pengendalian perubahan iklim di bumi Indonesia. Together, we share, shape, and build the future via green investment!

Mariska Adeline Sukmajaya

Praktisi keuangan berkelanjutan dengan 9 tahun pengalaman keberlanjutan pada industri pemanfaatan sumber daya alam, perbankan, non-profit dan organisasi internasional

Ralista Haroen

Post-graduate dan praktisi di bidang pembangunan dengan pengalaman di sektor swasta dan organisasi internasional.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button