web stats
Spiritualitas dan Ruhani

Menjalankan New Normal Dalam Perspektif Ruwatan Budaya Jawa

Kembalikeakar.com – Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kita mengenal adanya istilah “Pageblug” dan “Ruwatan.”  Pageblug berarti wabah atau pandemi, sementara ruwatan berarti ritual atau upacara untuk membebaskan seseorang dari nasib buruk yang akan atau sedang menimpanya.

“Pageblug” bagi masyarakat Jawa dipakai untuk menerangkan atau menjelaskan sebuah keadaan yang sedang dilanda malapetaka (musibah) karena pandemi/wabah penyakit sehingga menyebabkan banyak penderitaan juga kematian bagi manusia.

Sedangkan tradisi ritual “ruwatan” adalah sebuah usaha (upaya) untuk menghindarkan, melepaskan, dan membebaskan manusia dari “pageblug,” maupun malapetaka (musibah) dengan cara membersihkan atau “mensucikan diri.”

Tradisi ritual “ruwatan” dalam masyarakat Jawa dilakukan melalui upacara adat, pagelaran wayang kulit, seni tari, larung sesaji, musik dan tembang. Pembersihan (mensucikan) pikiran dan hati,  mengutamakan “laku” dharma (kebajikan, keadilan, keselarasan) dalam setiap perbuatannya, manusia bebas dari sifat keserakahan dan kesombongan, sebagai hasilnya kebahagiaan akan selalu menyertainya, serta terhindar dari segala “pageblug,” maupun malapetaka (musibah). Masyarakat Jawa meyakini bahwa keselamatan (kebahagiaan) dan “pageblug,” maupun malapetaka (musibah) merupakan “keseimbangan alam,” bagian dari siklus kehidupan itu sendiri.

Foto oleh Willy Yohanes, Kediri Bertutur April, 2016 di Situs Bung Karno Ndalem Pojok, Wates, Kediri

Air laut mengalami pasang surut, musim mengalami pergantian (kemarau dan hujan), erupsi gunung berapi, tsunami, dan wabah (pageblug) merupakan bagian dari “gerak” alam itu sendiri. Seperti halnya, para nelayan tidak melaut ketika pasang. Para nelayan menepi atau “minggir” untuk sementara waktu, menunggu gelombang pasang air laut berlalu. Ketika terjadi erupsi, masyarakat juga meninggalkan pemukiman atau kampung untuk menghindari dampak buruk akibat dari ganasnya letusan gunung berapi. Menepi (minggir) ketika terjadi “pageblug,” malapetaka (musibah) yang dikarenakan proses alam, berarti kita memberi kesempatan/jalan bagi alam untuk menyelesaikan proses keseimbangannya. Setelah semua berlalu atau berakhir, baru kita semua dapat beraktifitas kembali dengan normal. Jangan pernah merasa sombong dan paling hebat, lantas meremehkan, menantang atau melawan alam, karena akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.

Baca juga:   Bertasawuf di masa-masa sulit Pandemi Covid-19
Foto oleh Willy Yohanes, Kediri Bertutur April, 2016 di Situs Bung Karno Ndalem Pojok, Wates, Kediri

“Pageblug” maupun malapetaka (bencana) dapat terjadi karena sifat keserakahan dan kesombongan manusia yang “gila” akan kekayaan (harta), juga kekuasaan duniawi, bukan dikarenakan siklus alam (hukum keseimbangan). Dalam kisah Mahabarata, serta sejarah perang di dunia, malapetaka tidak lain disebabkan oleh keserakahan manusia, dan “arogansi” suatu bangsa yang merasa sebagai “ras” unggul, juga paling hebat (benar). Di era modern ini, pembangunan dilakukan dengan cara “mengeksploitasi” alam, tanpa memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Sehingga kemajuan peradaban di era modernitas justru diiringi dengan kerusakan alam yang mengakibatkan terjadinya berbagai malapetaka: “global warming,” tanah longsor, banjir, polusi, dan wabah penyakit (pageblug).
Dalam perspektif ini, penulis meyakini bahwa pandemi corona bukan hasil dari rekayasa manusia atau konspirasi, melainkan “gerak” alam untuk menyeimbangkan diri, dan yang akan berlalu dengan sendirinya. Satu hal perlu dilakukan saat menunggu berlalunya masa “pageblug,” atau pandemi corona, kita harus menyikapi dengan sikap “manembah,” yaitu ikhlas, sabar, dan tetap bersyukur.

Foto oleh Willy Yohanes, Kediri Bertutur April, 2016 di Situs Bung Karno Ndalem Pojok, Wates, Kediri

Sikap “manembah,” ikhlas, syukur, dan sabar adalah sebuah kesadaran spiritual masyarakat Jawa dalam “meruwat” diri dan lingkungannya ketika “pageblug,” maupun malapetaka (musibah) melanda kehidupan manusia. Menyambut “new normal” atau tatanan hidup baru di saat pandemi corona yang masih terjadi, janganlah kita menyikapi dengan “euforia.”  Dengan tetap mengikuti protokol kesehatan (memakai masker, physical distancing, dan selalu cuci tangan) dalam “new normal,” berarti kita semua melakukan “ruwatan” secara bersama-sama, “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara.” “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara” adalah falsafah dari kebudayaan Jawa yang mengajarkan sikap hidup budi luhur.  Secara umum makna, “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara” adalah manusia hidup di dunia harus senantiasa menjaga keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, keseimbangan, serta memberantas keserakahan atau ketamakan.

Baca juga:   Vitamin Syukur Di Tengah Pandemi Covid-19

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button