web stats
Masyarakat dan Sejarah

Mengapa Kita Harus Kembali Ke Buku

Faktanya membaca buku memang lebih baik dibanding internet.

Kembalikeakar.com – Sebagai orang yang gemar membaca sejak kecil, saya tumbuh di kelilingi buku. Buku yang saya baca pun beragam jenisnya mulai dari buku pelajaran, komik, novel, sampai majalah anak. Seiring bertambahnya usia, saya mulai dikenalkan dengan gawai dan laptop. Melalui dua benda tersebut saya masih tetap melanjutkan hobi saya. Membaca melalui internet ternyata agak berbeda dibanding membaca melalui buku.

Buku membuat saya menerima informasi yang dicerna melalui proses, tidak serta merta instan. Buku juga menyimpan banyak informasi yang terpercaya. Buku melalui proses panjang untuk dapat diterbitkan, melalui serangkaian proses penulisan, review, dan penyuntingan hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca dengan segenap informasi yang menunggu untuk dicerna, diinternalisasi, dan diberi respon.

Internet dan segala gegap gempita mengenainya sedikit berbeda, tak terkecuali mengenai kemudahan untuk memperoleh informasi. Melalui internet membaca menjadi jauh lebih mudah. Kita dapat membaca di mana saja, kapan saja, tanpa perlu menenteng buku yang berat. Internet menyediakan berbagai macam bacaan mulai dari ebook, artikel, berita, blog, dan lain-lain.

Ada hal mulai saya sadari sepanjang pengalaman membaca melalui buku dan internet. Saya ternyata lebih menyukai membaca buku. Kenapa ya? Karena faktanya membaca buku memang lebih baik dibanding internet. Simak alasannya di bawah ini!

Ketika membaca buku, kita dapat mencatat atau menandai bagian yang kurang dimengerti atau menarik, yang sayangnya melalui internet hal tersebut hanya dapat dilakukan pada beberapa tipe bacaan saja [Schugar, J. T., Schugar} Selain itu, membaca melalui internet membuat kita harus tersambung ke gawai atau laptop yang menghasilkan sinar biru (blue light) yang berbahaya bagi tubuh. Blue light dapat merusak retina dan mengurangi pengeluaran hormone melatonin, sehingga mengganggu siklus tidur. Tak hanya itu, blue light juga merusak kolagen sehingga berbahaya bagi kulit [Koesno, D.A.S).

Baca juga:   “Cancel Culture”, merdeka yang kelewatan?

Buku menawarkan tulisan yang lebih besar, sehingga memudahkan kita membacanya. Melalui layar gawai yang kecil, untuk membaca tentu diperlukan usaha yang lebih banyak [Al Ghamdi, E]. Semakin kecil layar atau medianya, akan lebih menyulitkan kita untuk memahami informasi yang ada di dalamnya. Pemahaman informasi inilah yang dapat menambah wawasan kita.

Internet menawarkan informasi yang begitu banyak, sampai-sampai kita ragu apakah informasi tersebut terpercaya atau tidak. Buku di sisi lain menawarkan informasi tunggal. Informasi yang tersedia di buku lebih terpercaya dan bahkan dijadikan referensi untuk beberapa artikel di internet. Hal ini menunjukkan betapa buku memang lebih kaya informasi dibanding internet. Informasi di buku melalui serangkaian proses panjang memberi ulasan dan penyuntingan sehingga informasi yang hadir padamu dalam bentuk buku ialah informasi yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya baik oleh sang penulis, editor, maupun penerbit.

Hasil ulasan penelitian mengenai perbedaan membaca versi cetak dan digital menunjukkan bahwa buku cetak menjadi media belajar yang lebih cocok dan dapat meningkatkan pemahaman siswa dan hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan orang yang membaca melalui internet cenderung merasa terlalu percaya diri terhadap informasi yang diterima [Delgado, P., Vargas]. Selain itu, internet membuat ingatan kita berjalan secara pasif, karena kita mengandalkan internet dan gawai itu sendiri untuk menyimpan hal-hal yang butuh untuk kita ingat melalui bacaan kita. Sedangkan ketika membaca buku, kita memberi notes, garis stabilo, dan kertas pembatas untuk mengingat bagian-bagian tertentu, artinya ingatan kita bekerja secara aktif.

Melalui beberapa alasan di atas, saya meyakini bahwa kita memang harus #kembalikebuku. Karena buku memberi dampak yang lebih positif dibanding sekedar membaca melalui internet. Bagaimana menurut kamu?

Baca juga:   Menelisik Tekanan Mental Para Tenaga Kesehatan Selama Masa Pandemi Covid-19

Referensi

  • Schugar, J. T., Schugar, H., & Penny, C. (2011). A Nook or a Book? Comparing College Students’ Reading Comprehension Levels, Critical Reading, and Study Skills. International Journal of Technology in Teaching & Learning, 7(2).
  • Koesno, D.A.S (2020). Dampak & Bahaya Sinar Biru pada Gadget Untuk Kesehatan Kulit – Tirto.id. Diakses melalui https://tirto.id/dampak-bahaya-paparan-sinar-biru-pada-gadget-bagi-kesehatan-kulit-fDmB pada tanggal 4 Oktober 2020
  • Al Ghamdi, E., Yunus, F., Da’Ar, O., El-Metwally, A., Khalifa, M., Aldossari, B., & Househ, M. (2016). The effect of screen size on mobile phone user comprehension of health information and application structure: An experimental approach. Journal of medical systems, 40(1), 11.
  • Delgado, P., Vargas, C., Ackerman, R., & Salmerón, L. (2018). Don’t throw away your printed books: A meta-analysis on the effects of reading media on reading comprehension. Educational Research Review, 25, 23-38.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button