web stats
Imajinasi Peradaban Masa Depan

Apakah Transhumanisme akan berkembang di Indonesia?

Kembalikeakar.com – Perkembangan zaman telah membawa manusia pada era baru, yaitu era teknologi dan digitalisasi. Bahkan rasanya teknologi seperti agama baru yang muncul di tengah masyarakat untuk menjawab berbagai pertanyaan dan mempermudah hidup manusia. Teknologi menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Mulai dari pencarian informasi yang tak lagi melalui buku atau koran, melainkan melalui peranti lunak, hingga robot yang mampu mengerjakan berbagai pekerjaan manusia. Menurut mereka, perkembangan ini ditujukan demi “human enhancement”, yang merupakan gagasan utama dibalik transhumanisme. Transhumanisme berpendapat bahwa teknologi dapat memperbaiki evolusi manusia. Namun, apakah benar manusia akan berevolusi semakin baik melalui transhumanisme? Atau perbaikan manusia melalui teknologi ini hanya akan membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaannya? Lalu, mungkinkah transhumanisme berkembang di Indonesia?

Dasar Munculnya Transhumanisme

Klaus Schwab seorang ekonom, dan pendiri World Economic Forum, menawarkan sebuah narasi yang disebut revolusi industri 4.0. Ia berpendapat bahwa dalam beberapat tahun kedepan kita tidak akan mengandalkan tenaga manusia atau hewan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, melainkan tenaga teknologi digital (mikroprosesor dan artificial intelligence) yang dianggap mampu mempermudah dan meningkatkan kesejahteraan manusia.

Gordon Moore, salah satu pendiri Intel dan penemu mikroprosesor, mengatakan sebuah hukum pertumbuhan kecepatan mikroprosesor yang disebut hukum Moore. Hukum Moore berbunyi: “mikroprosesor akan bertambah baik/cepat dengan cara akselerasi, berarti perkembangannya akan bersifat lipat ganda (mengikuti kelipatan bilangan eksponen). Sehingga, mikroprosesor akan bertambah cepat berkali-kali lipat dalam rentang waktu yang semakin memendek[1]. Mikroprosesor ini kini menjadi pusat tiap perkembangan teknologi digital.

Baca juga:   A Better Indonesia is In The Making

[1] Moore, G. (1965). Moore’s law. Electronics Magazine, 38(8), 114.

Apa itu transhumanisme?

Kata “transhumanisme” pertama kali muncul sebagai hasil pemikiran dari seorang filsuf dan ahli biologis Inggris yang bernama Julian Huxley. Dalam esainya, Huxley berpendapat bahwa kondisi manusia dapat diperbaiki melalui perubahan sosial dan ekonomi[1]. Pemikiran ini diadopsi oleh gerakan yang berfokus pada perkembangan teknologi, yaitu gerakan transhumanisme. Gerakan ini berfokus pada perbaikan evolusi manusia melalui teknologi (nanotechnology, artificial intelligence, penelitian gen dan sel, dan lain-lain). Sehingga, transhumanisme dapat diartikan sebagai sebuah gerakan sosial dan filosofis yang ditujukan untuk memperbaiki evolusi manusia (fisik, kognitif, dan bahkan psikologis) melalui teknologi.

Transhumanisme kini berkembang cukup pesat selama beberapa tahun belakangan. Mereka memiliki organisasi (Humanity +), basis wilayah (Silicon Valley), bahkan partai politik (Longevity Party) nya sendiri.

Transhumanisme menghadirkan pro dan kontra. Mereka yang pro berpendapat bahwa “semua ini demi umat manusia”, sedangkan yang kontra berpendapat “ini melanggar hukum penciptaan”. Lalu kita harus pro atau kontra?

[1] Huxley, J. (1968). Transhumanism. Journal of Humanistic Psychology, 8(1), 73–76. doi:10.1177/002216786800800107

Pandangan Jaron Lanier

Jaron Lanier adalah seorang filsuf dan ilmuwan komputer Amerika Serikat. Lanier merupakan penulis buku “you are not a gadget” dan “who owns the future”. Dalam kedua buku itu Lanier menuangkan gagasannya mengenai perkembangan teknologi yang dapat menjawab mengapa transhumanisme tidak selamanya baik.

Jaron Lanier

Digitalisasi dan glorifikasi teknologi membuat arah berpikir kita cenderung sampai kepada gagasan bahwa komputer telah melakukan segalanya, tanpa manusia melakukan apa-apa. Sehingga kita cenderung malas dan tidak mau mengeksplorasi potensi-potensi baik manusia yang akhirnya membuat kita bergantung terlalu banyak pada teknologi. Masalah lainnya ialah melalui teknologi kita seolah agak lupa dengan proses. Cenderung serba instan. Apa yang kita butuhkan seolah langsung tersedia begitu kita mengetikkan jemari di perangkat lunak yang kita miliki.

Baca juga:   Keberlanjutan : Sebuah hutang investasi untuk masa depan

Kita, generasi muda di-encourage untuk memakai berbagai platform media sosial dengan adanya “standar sosial”, di mana jika kita tidak memakai media sosial maka kita dianggap “tidak ada”. Media sosial juga membuat munculnya pseudonymity sehingga manusia cenderung diperlakukan bukan sebagai dirinya atau kreativitasnya sendiri,  melainkan dengan atribut pseudonym-nya. Seolah-olah pseudonym adalah produk yang luar biasa ajaib, padahal mengaburkan siapa kita sebenarnya.

Perkembangan teknologi menjadikan kita perlahan kehilangan makna mendalam mengenai manusia, alam, dan bagaimana realita bekerja. Teknologi mungkin akan menyelesaikan masalah satu, tapi toh akan menghasilkan masalah baru. Saat kita merasa betapa murahnya informasi, tapi dibalik itu tagihan internet, kuota internet, tagihan listrik luar biasa mahal. Tidak ada hal yang benar-benar gratis sekaligus, kita harus terbiasa melihat sistem secara keseluruhan untuk tidak dibutakan oleh glorifikasi teknologi sebagai solusi murah dan terjangkau bagi semua manusia.

Masalah sebenarnya bukan pada teknologinya, tapi bagaimana kita memandang teknologi. Teknologi memang membuat manusia menjadi agak kurang berharga, namun teknologi selalu menghasilkan pekerjaan baru ketika pekerjaan yang lama sudah “punah”. Masalahnya memang bukan ini, tetapi bagaimana ekonomi baru membuat orang yang juga berperan dalam perkembangan teknologi, tidak dihargai. Contohnya ketika Instagram dibeli oleh Facebook pada 2012 seharga 1 miliyar dollar US saat pegawainya hanya 13 orang. Nilai 1 miliyar ini bukan karena 13 pegawai Instagram adalah orang-orang yang luar biasa hebat, melainkan karena jutaan manusia yang memakai Instagram di kala itu. Namun, tentu saja pengguna tidak memperoleh apapun dan bahkan dihargai sebagai kontributor di balik kesuksesan Instagram.

Penciptaan kecerdasan buatan ialah salah satu dari pencapain luar biasa yang dilakukan umat manusia. Ini mengakibatkan beberapa di antara kita menjadi tamak, sombong dan menganggap mereka telah menciptakan sesuatu yang lebih hebat dari manusia.

Baca juga:   "Nusantara Forever!": Kehidupan Generasi Muda Setelah Pandemi

Di Indonesia Apa Kabar?

Nampaknya, transhumanisme memang akan menarik bagi sebagian masyarakat Indonesia, namun bagi sebagian besar tidak. Mengapa? Karena transhumanisme membuat manusia seolah ingin melewati prinsip penciptaan. Beberapa ahli berpendapat bahwa suatu saat kecerdasan buatan akan melampaui kecerdasan manusia dan terjadilah singularitas.

Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki keyakini tinggi pada ke-Tuhanan dan potensi baik manusia secara individual maupun sosial, secara substantif bertentangan dengan transhumanisme. Terlebih, teknologi mengakibatkan beberapa efek negative bagi perkembangan manusia. Sehingga, mungkin transhumanisme akan sulit diterima dan berkembang di Indonesia. Namun, ini hanya sebuah prediksi saja, kedepan sebuah negara akan sangat diwarnai oleh globalisasi yang dimaknai sebagai ekstensifikasi industrialisasi.

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk tetap menjadi manusia yang tidak hidup di dunia teknologi saja, melainkan dunia nyata?

  1. Kalau kamu melakukan usaha cukup keras untuk mengerjakan halaman webmu, tuangkan usaha yang sama dalam suaramu, -dan buatlah orang menyadari betapa topik yang kamu tulis di website adalah hal yang menarik bagi mereka.
  2. Jangan mengunggah sesuatu secara anonym, kecuali dalam situasi terdesak.
  3. Unggahlah video atau tulisan, yang dibanding melihatnya, kamu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuatnya.
  4. Lakukan sesuatu yang bisa membuatmu bebas mengekspresikan siapa kamu, selain di media sosial

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button