Lingkungan Hidup dan Budaya

Permanet Culture dalam Falsafah Nusantara

Kembalikeakar.com – Belakangan ini istilah permaculture (Permanet Culture) mulai marak menjadi bahan topik pembicaraan. Istilah yang awalnya bernama permanent agriculture, seiring dengan perkembangan zaman berubah menjadi permaculture. Sebenarnya artinya cukup sederhana yakni suatu konsep tatanan hidup berkelanjutan yang selaras dengan alam sehingga dapat dicapai stabilitas dan harmonisasi. Bill Mollison digadang-gadang sebagai pioner permaculutre. Uniknya jika kita melihat ke dalam budaya negeri kita sendiri, rasanya permaculture bukanlah hal yang istimewa atau luar biasa. Karena permaculture sudah menjadi kehidupan sehari-hari para leluhur kita sejak zaman dahulu kala.

Azumardi Arya ahli sejarah Indonesia mengatakan, bahwa indonesia pada saat zaman dahulu menjadi tempat vital perdangangan internasional. Kebanyakan barang yang didagangkannya pun ialah hasil bumi yang melimpah dengan kualitas yang sangat baik. Ini menjadi bukti bagaiamana pola tanam yang dilakukan masyarakat nusantara pada zaman dahulu begitu unggul. Sebab zaman dahulu belum ada tekonologi atau sistem pertanian modern, tetapi hasil buminya terus melimpah dengan kualitas yang baik.

Jika hasil bumi bisa berlimpah berarti kegagalan panen bisa dihindari dan dengan kata lain masyarakat zaman dahulu sudah punya sistematikanya sendiri dalam bercocok tanam sehingga tidak mendatangkan hama yang sering kali menjadi penyebab kegagalan panen. Mereka sanggup mengatur irigasi air sedemikian rupa hingga tidak kekeringan. Wajar jika bangsa-bangsa luar pun berbodong-bondong datang untuk bertransaksi jual beli kebutuhan pangan.

Berbicara mengenai hidup selaras dengan alam, juga bukan hal yang asing untuk masyarakat Nusantara. Menurut budayawan Sunda, Kang Kimun  di daerah Kanekes ada istilah hutan larangan, yang tidak boleh diapa-apakan, termasuk mengambil bahan untuk makanan, oleh karenannya orang Kanekes memiliki sendiri daerah khusus untuk menanam tanaman yang dapat dipanen untuk kebutuhan sehari-hari dan tentunya tempatnya bukan di dalam hutan larangan. Adanya konsepsi tentang hutan larangan bisa dikatakan sebagai bentuk pencegahan orang-orang Kanekes menjaga diri mereka dari nafsu untuk mengeksploitasi alam lingkungan hidup. Sehingga keseimbangan ekosistem Kanekes terjaga.

Baca juga:   Berempati Pada Alam

Hutan larangan juga bukan hanya terdapat di Kanekes tetapi juga di kaki gunung Halimun Jawa, yakni Kasepuhan Ciptagelar. Hanya saja namanya bukan hutan larangan tetapi hutan titipan. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar meyakini bahwa hutan titipan tidak boleh diapa-apakan oleh manusia. Konsepnya kurang lebih sama seperti hutan larangan. Di Kalimantan juga sama.

Pada masyarakat Dayak Iban contohnya, yang bermukim di dusun sungai Utik Desa Batu Lintang, Kabupaten KapuasHulu.Terdapat sebuah daerah yang mereka juluki hutan kramat. Untuk mengambil hasil makan dan keperluan lainnya, mereka memiliki daerah hutan produksi, tetapi tidak denganhutan kramat. Pada dasarnya konsep-konsep hutan seperti ini, baik itu hutan larangan, hutan titipan maupun hutan kramat, tersebar luas di setiap suku-suku yang ada di Nusantara. Lihatlah bagaimana harmonisasi bisa terjadi lewat perantara alam semesta dan lingkungan hidup.

Berkebun atau bertani, di Indonesia lebih dari hanya sekedar aktivitas menanam untuk menghasilkan makanan. Tetapi juga falsafah hidup yang lengkap, dimana di dalamnya ada unsur sosialnya, ada unsur spiritualnya (imamnen-transendensi), dan ada unsur budaya kesenian. Inilah hal yang tidak dimiliki oleh permaculture dari barat. Bukan sekedar hidup dengan alam, bukan juga sekedar hidup untuk keberlanjutan masa depan. Tetapi juga sebagai media mengenal diri sendiri dan mengenal Tuhan, sebagai media pembelajaran untuk mengasah akhlak dan memendam ego, sebagai media bersosialisasi semua sejajar (egaliter).

Bahkan terhadap bentuk-bentuk kesenian saja, adalah hasil manifestasi hasil dari rasa keharmonisasian hidup dengan alam. Contohnya alat musik tiup orang Kanekes bernama Karinding. Bentuk alat musik Karinding memiliki arti mendalam tentang bagaimana seharusnya masyarakat Kanekes hidup dengan alam. Dari kesenian ini pula, para generasi tua Kanekes bisa mengajari prinsip hidup lesteri ini dengan menyenangkan pada generasi muda melalui media musik. Masih banyak lagi kesenian lainnya yang tercipta sebagai wujud syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa atas kehidupan yang harmonis dengan alam semesta.

Baca juga:   Ah, harusnya bukan "Selamatkan Bumi" tapi justru "Selamatkan Manusia"

Saya membayangkan apabila ada penduduk asli desa Kanekes kuliah pertanian di luar negeri. Mungkin kita sekarang akan mengenal prinsip permaculture sebagai hasil gagasan anak bangsa, bukan dari Bill Mollison. Mungkin saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button