web stats
Lingkungan Hidup dan Budaya

Belajar mengenal Tanah dari dokumenter Kiss The Ground

Allan Savory (ahli ekologi) menjelaskan air dan karbon nasibnya tergantung dari tanah yang subur.

Kembalikeakar.com – Tanpa terasa kita sudah masuk bulan ke tujuh sejak covid-19 berdampak di Indonesia. Berbagai kondisi sudah kita hadapi, PSBB diterapkan yang memaksa kita untuk beraktivitas terbatas dari rumah. Hingga belakangan ini konsentrasi dalam upaya mengisi kegiatan tertuju pada dua hal. Pertama trend bersepeda kembali marak, walaupun dalam bentuk lebih realistis (bukan fixgear) sepeda lipat dan roadbike menjadi primadona pilihan mereka yang menjaga kebugaran. Kegiatan kedua adalah trend bercocok tanam, mulai dari tanaman hias hingga tanaman sayur yang dapat dipanen.

Kedua kegiatan ini memiliki kesamaan, walau tanpa disadari mendukung kelestarian ibu pertiwi. Tapi manakah yang lebih berdampak baik untuk diri sendiri dan lingkungan? Melalui film dokumenter ‘Kiss the ground’ besutan Netflix, dengan narrator Woody Harrelson, kita dibawa  untuk membayangkan akan  ‘Tallahassee’ selamat dari zombie-zombie atau kerasnya ‘the Collonel’ menyelamatkan markas dari serangan balik pasukan apes yang dipimpin oleh Caesar. Sebelum sampai membayangkan situasi kritis itu, dalam film dokumenter ini dipaparkan secara komprehensif penjelasannya.

Sebagaimana kita ketahui perubahan iklim terjadi karena adanya efek rumah kaca,  emisi karbon yang kita hasilkan gagal terbang ke angkasa malahan dikembalikan ke bumi. Kondisi bumi yang tidak sanggup mengolah karbon dalam volume tersebut,  ditambah emisi karbon yang baru, situasi ini terus terakumulasi hingga diantara kami mempertanyakan cucu, cicit generasi keberapa mampu menyelesaikan persoalan ini.

Kabar baiknya  tidak hanya datang dari buah manggis yang kini ada estraknya, melainkan salah satu conservation agronomist dari NRCS (Natural Resources Conservation Service) yang paling istiqomah ialah Ray Archuleta. Ia berkeliling dunia untuk mengajak seluruh petani mengganti metode yang lebih aman dan ramah lingkungan (lingkungan horizontal dan vertikal). Tidak lain tidak bukan ialah metode yang tradisional telah dilakukan oleh suku indian (di amerika) atau bahkan mirip sekali dengan tetangga kita suku baduy. Dimana tidak banyak melakukan intervensi terhadap tanah sebagai lahan yang ingin kita tanam.

Baca juga:   Keseimbangan dalam mengolah Informasi Seputar Covid-19

Kristin Ohlson (penulis, Soil will Save us) menambahkan bahwa karbon yang terjebak tadi (tidak diterima angkasa juga sulit diserap kondisi bumi) bisa mendapatkan kedamaian melewati tumbuhan yang tumbuh. Mereka mengkonsumsi karbon lalu tumbuhan mengolahnya menjadi makanan bagi mikroorganisme di tanah.

Mikroorganisme tanah mengembalikan nutrisi mikro untuk dikonsumsi oleh tumbuhan. Ekosistem ini berputar yang akan membuat kondisi tanah subur secara alami. Mudahnya adalah menjaga kondisi semesta tanah untuk tetap sehat mampu menyerap karbon dioksida  yang tak bertuan tersebut.

Jauh dari yang kita bayangkan bahwa tidak hanya tanaman saja yang mampu mengolah hal tersebut, namun tanah juga mampu mengolah karbon. Hanya tanah dalam catatan, tanah yang tak terinvensi oleh toxic chemical atau yang biasa disebut nutrisi kimia (pestisida). Tidak heran kita pernah mendengar berita mengenai kondisi tanah yang tidak bisa di tanami kemudian tanah tersebut berubah menjadi debu. Karena kesuburan tanah mampu didapat dari ekosistem kondusif dari sistem yang organik. Jika tanah berteriak mungkin tidak berbeda dengan Cakra Khan “aku tanpamu butiran debu”.

Pernahkah kalian merasakan bahwa liburan di desa, di dekat alun-alun, jauh dari beton-beton bangunan tinggi jauh lebih sejuk? Allan Savory (ahli ekologi) menjelaskan air dan karbon nasibnya tergantung dari tanah yang subur. Apabila kita merusak tanah tersebut maka mereka akan melepas karbondioksida kembali ke angkasa. Kondisi ini menjadi kontributor meningkatnya suhu sekitar. Tanah tak mampu menyerap air dan karbondioksida lalu tanah berubah menjadi debu. Jika memang sulit membayangkan cobalah luangkan waktu untuk berkunjung ke rumah kawan yang lebih asri, dan buktikan sendiri.

Dokumentar Kiss the Ground berusaha memaparkan kondisi iklim ekstrim yang kita semua hadapi adalah masalah bersama. Tetapi juga sebaliknya, upaya ini juga dapat dilakukan dengan usaha mikro dari lahan yang kita miliki.

Baca juga:   Permanet Culture dalam Falsafah Nusantara

Tidak perlu memiliki ilmu lipat bumi seperti para wali bertemu dengan makhluk di dalam perut bumi untuk melindungi ibu pertiwi. Kita hanya perlu menjaga 5cm-40cm dalam tanah di sekitar kita. Alternatif yang bisa kita lakukan ialah seperti pribahasa sambil menyelam meminum air. Bertanam secara organik, tanah subur mengikat air dan karbondioksida. Bagi penanam mendapatkan sayur mayur juga asupan nutrisi yang sebenarnya.

Mari bersama kita buktikan tanah di sekitar kita dengan teori sederhana milik Yok Koeswoyo. Cukupkah tongkat kayu dan batu cukup menghidupimu? Apabila kayu (ambil contoh batang singkong) tidak sanggup bertahan hidup maka tanahmu sudah dalam kondisi kurangnya ekosistem kehidupan di dalamnya. Hingga berujung kepada kegiatan apa yang kamu akan lakukan di tengah pandemi seperti ini? Bersepeda, memelihara cupang, bercocok tanam, atau mulai dari menonton Netflix.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button