web stats
Mengenal Diri

Menjumpai diri sejati melalui emosi

Kembalikeakar.com – Bosan. Sedih. Luka. Duka. Betapa sekarang ini waktu-waktu kita berlimpah untuk mengalami dan menghayati emosi-emosi ini, khususnya bila dibandingkan dengan tahun-tahun yang telah lewat.

Sepanjang perjalanan profesi saya, mungkin baru sekarang menyadari keberadaan rasa bosan pada beberapa hari yang lalu, yang tampaknya dipicu oleh masa karantina yang membatasi ruang gerak. Adakah yang mengalami kebosanan serupa?

Saya lalu menyadari, tidak hanya bosan yang kerap hadir akhir-akhir ini. Di layar kaca tampak wajah-wajah hampir putus asa, air mata pejuang garda depan, wajah-wajah tertekan para pengambil kebijakan, duka para pengantar jenazah. Hari-hari kita sedang berlimpah rasa sedih, tertekan, dan mungkin juga takut.

Coba ingat-ingat sejenak suasana tahun lalu, barangkali cukup banyak emosi gembira, seperti kelahiran anggota keluarga, pernikahan sahabat, ulang tahun, kelulusan, keberhasilan, dsb. Bandingkan dengan tahun ini, yang baru satu caturwulan saja. Apakah tampak kontras muatan emosinya? Meskipun juga, ada sebagian kita yang telah lebih dulu diselimuti awan kelabu selama tahun-tahun terakhir hingga saat ini.

Kita pada umumnya memberi label emosi negatif pada emosi-emosi takut, marah, bosan, sedih, duka, untuk kemudahan kategorisasi (Davies, 2017). Padahal, apa itu negatif dan positif? Apakah yang negatif artinya dihindari, tidak pantas, tidak layak ada?

Emosi-emosi ini sebenarnya merupakan kekayaan kita, para manusia usia berapa saja yang terdampak pandemi tahun 2020.  Emosi yang tidak untuk ditolak.

Apabila sebelum pandemi ini, kita mudah menolak dan mengabaikan adanya kekecewaan, kegagalan, kesedihan, kesepian, konflik, kemudian mengalihkannya dengan aktivitas lain, biar lupa dan tegar. Kini, ketika perasaan-perasaan ini muncul, mau dialihkan dengan apa? Sekali dua kali mungkin bisa dicarikan substitusinya. Musik, masak, buku, media sosial, belanja online, mengobrol, tidur, lalu, apa berikutnya? Mungkin kita malah jadi lelah, uring-uringan, bete, bosan, ketika emosi ini hanya dialihkan.

Baca juga:   Peran paling penting seorang Ibu di Masa Pandemi

Sedikit kita telaah tentang emosi. Emosi berasal dari kata emotere yang merupakan bahasa Latin, artinya energy in motion, energi yang bergerak. Keberadaan emosi menggerakkan manusia, entah untuk bertindak, beranjak, mundur, berlari, dsb.

Akan tetapi, bagaimana kalau emosi takut, bosan, sedih, dan duka ini bukan untuk diubah, tetapi dirasakan sepenuhnya dan membiarkannya memandu kita menjumpai diri sejati? Sesungguhnya, emosi menampakkan diri asli seseorang. Mari kita ingat-ingat reaksi kita pada minggu pertama pandemi, apakah cemas, dan kemudian apakah ikut panic buying, atau tenang santai selow, sibuk menggalang dana kemanusiaan, marah mengumpat, atau malah cuek tidak mengikuti berita?  Setiap reaksi, segala aksi, adalah ungkapan yang wajar dan manusiawi. Dalam konteks menjumpai diri yang sejati, kita hanya perlu menyadarinya.

If emotion is our intelligent body’s way of inviting us to align with our true self, intuition and inner knowing could be said to be direct communication from that true self (Davies, 2017). Melalui intuisi, kita bisa mengetahui pesan yang dikomunikasikan oleh diri sejati, yang dapat berupa rasa fisik, pikiran, atau letupan ide. Gagasan bahwa kebosanan merupakan katalisator yang membantu kita menemukan kebaruan, pastilah berawal dari sebuah intuisi dari para tokoh yang berkomunikasi dengan diri sejati mereka. Sama halnya dengan contoh berikut, masih mengangkat kisah Viktor E. Frankl (seperti pada artikel saya sebelumnya), ketika membantu kliennya.

“Seorang dokter umum berusia lanjut datang ke tempat praktik saya karena dia merasa sangat tertekan. Dia tidak bisa melupakan kematian istrinya yang terjadi dua tahun yang lalu, orang yang dia cintai lebih dari siapa pun. Saya mengajukan satu pertanyaan,’Katakan, Dokter, apa yang mungkin terjadi jika Anda lebih dulu meninggal daripada istri Anda?’ ‘Oh,’ katanya, ‘Dia pasti akan merasa sangat sedih, betapa akan menderitanya dia!’ Mendengar jawabannya saya berkata, ‘Anda lihat, Dokter, mendiang istri Anda terbebas dari penderitaan seperti itu, dan Andalah yang membebaskannya dari penderitaan seperti itu—tetapi, Anda harus membayarnya dengan tetap hidup dan berkabung untuknya.’ Tanpa mengatakan apa-apa dokter tersebut menyalami saya dan meninggalkan ruang praktik saya. Dalam banyak hal, penderitaan tidak lagi menjadi penderitaan ketika dia sudah menemukan maknanya, misalnya makna dari sebuah pengorbanan.”

Sejenak saya mencoba membayangkan emosi warga dunia yang sedang pekat menyelimuti bumi, dari pasien maupun keluarga pasien, pekerja maupun pengangguran, tenaga kesehatan maupun masyarakat awam, pemimpin maupun generasi muda. Emosi bisa menggerakkan kita, tidak hanya ke luar untuk diekspresikan dan dilampiaskan, tetapi juga menggerakkan ke dalam diri. Manfaatkan energinya. Ketika kita mau menghadapi emosi-emosi, entah bosan, sedih, luka, duka; menyadari keberadaannya, dan terhubung dengan diri sejati, kita akan mampu mendengar kebijaksanaan yang ada di dalam.

Baca juga:   Membuat Playlist Musik Di-Era Pandemi Corona, Sebuah Potensi Kreativitas Alternatif

Referensi:

Britta C. 2017. How I learned to embrace my boring life. https://medium.com/@britta.c/how-i-learned-to-embrace-my-boring-life-1106080f3a56 Britta C 2017

Davies, Kyle. L. 2017. The Intelligent Body: Reversing Chronic Fatigue and Pain From the Inside Out. W. W. Norton & Company.

Frankl, Viktor E. 1992. Man’s Search for Meaning. Priyatna, Haris. 2017. Noura books: Jakarta, Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button