Lingkungan Hidup dan Budaya

Berempati Pada Alam

Kembalikeakar.com“Manusia terlalu merusak, pandemi corona dan krisis iklim adalah pesan dari alam bahwa semakin kita merusak alam, semakin pula kita merusak diri sendiri”.  – Kepala Lingkungan PBB, Inger Andersen.

Tahukah kawan menurut ahli, hewan yang diangkut jarak jauh dan dijejalkan ke dalam kandang akan mengalami stres dan imunosupresi sehingga memunculkan virus patogen. Hewan yang dikonsumsi manusia pun bisa saja tak sengaja mengkonsumsi limbah dari manusia sehingga terkontaminasi dan menjadi inang virus yang akhirnya menyebar pada manusia. Artinya virus yang ditimbulkan hewan seperti COVID-19 sangat berkemungkinan menjadi bukti bahwa dapat terjadi akibat ulah manusia.

Menarik memang, virus corona dengan manusia yang tidak peduli pada alam memiliki kesamaan. Virus corona hanya bisa hidup di tubuh kita namun disaat bersamaan virus tersebut malah mematikan tubuh kita sehingga dirinyapun akan ikut mati (bunuh diri). Manusia yang tidak peduli pada alam juga sama, mereka tahu mereka hanya bisa hidup di bumi namun disaat bersamaan mereka malah merusak alam hingga akhirnya bila bumi rusak maka manusia pun akan mati (bunuh diri juga).

Seperti yang kita tahu, corona ternyata juga membawa beberapa dampak positif pada alam mulai dari udara yang semakin bersih dan ozon kian memulih. Momen dimana biasanya alam kesusahan dan manusia gembira, kini menjadi sebaliknya. Namun bisakah alam dan manusia hidup gembira dengan win-win solution ?

Tentu bisa. Peristiwa corona saat ini dapat menjadi turning point agar kita dapat berempati pada alam sehingga udara segar yang kita hirup saat ini tidak akan berakhir meskipun PSBB usai. Empati pada alam atau mencoba memahami perasaan alam saat ini menduduki posisi yang sangat penting bahkan sepenting empati pada manusia. Berdasarkan beberapa studi semakin kita merasa dekat dengan alam atau menjadikan alam sebagai bagian penting hidup kita semakin besar empati pada alam yang kita punya.

Baca juga:   Ah, harusnya bukan "Selamatkan Bumi" tapi justru "Selamatkan Manusia"

Menariknya orang-orang yang tergabung dengan komunitas lingkungan, berdonasi, merawat tanaman, melakukan reduce, reuse, recycle memiliki kesamaan, yaitu memiliki empati pada alam. Artinya mulai belajar dan mengajarkan anak untuk berempati atau memahami perasaan mahkluk hidup lain menjadi pelajaran yang tak bisa dianggap remeh lagi. Ya. Bila manusia ingin hidup sejahtera, kita harus mensejahterakan mahluk hidup lain.

Berempati pada alam pun sudah diterapkan sejak dulu oleh founding fathers kita. Menurut sejarawan Peter Carey, pangeran Diponegoro memiliki kebiasaan suka merawat tanaman sayuran dan buah-buahan.

Bumi kita satu, kita hanya bisa hidup di Bumi. Oleh karena itu Pakar edukasi alam, Sobel berujar: “Kita harus mulai dengan empati, dengan menempatkan diri di posisi tanaman/hewan”

Referensi

  • Sumber: Tam, K. P. (2013). Dispositional empathy with nature. Journal of Environmental Psychology, 35, 92-104.
  • Carrington, D. (2020). Coronavirus: ‘Nature is sending us a message’, says UN environment chief. Retrieved from https://www.theguardian.com/world/2020/mar/25/coronavirus-natureis-sending-us-a-message-says-un-environment-chief
  • Carey, P. (2011). Kuasa ramalan: Pangeran Diponegoro dan akhir tatanan lama di Jawa, 1785-1855. Kepustakaan Populer Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button