Mengenal Diri

Kura-Kura dan Kelinci

Kembalikeakar.com – Apakah kamu masih ingat dongeng lomba lari kelinci dan kura-kura ?, Jadi inilah kisah selanjutnya

Setelah kelinci kalah karena terlena. Ia merasa stres, kesal dan menantang kura-kura untuk berlomba. Kemudian secara mengejutkan kura-kura masih menerima tantangannya tetapi ia ingin lomba lari maraton. Perlombaan harus melewati pantai dan hutan. Kelinci berpikir untuk kali ini ia tidak akan terlena dan meremehkan kura-kura, kali ini ia hanya akan fokus untuk mencapai tujuannya. Dia akan berlari secepat yang dia bisa, tidak peduli seberapa lelah ia melangkah. Rubah menjadi wasit dalam lomba. Ketika perlombaan dimulai, kelinci berlari jauh di depan kura-kura, seperti yang sudah kita tebak.

Kelinci itu berlari secepat mungkin, lelah secepat mungkin, dan kemudian beristirahat secepat mungkin, hal tersebut terjadi berulang kali. Kelinci berpikir bahwa ia harus berada di garis finish secepatnya apapun yang terjadi. Sedangkan kura-kura berlari pelan dan stabil tetapi tidak pernah berhenti. Kura-kura tahu bahwa kali ini adalah perlombaan maraton, jika ia berlari dengan cepat maka itu hanya membuatnya cepat lelah.

Ketika kura-kura melewati pantai dan hutan, ia sangat menikmatinya, hembusan angin yang menyegarkan dari lautan, suara ombak pantai yang menenangkan, dan tarian kupu-kupu hutan yang memanjakan. Saat kelinci melewati pantai dan hutan, pikiranya hanya fokus kedepan, lingkungan sekitarnya tak ia hiraukan, ia hanya mengeluh akan rute balapan yang panjang.

Seiring berjalannya waktu. Ketika kelinci melihat garis finish di depannya, secara mengejutkan ia melihat kura-kura sudah di dekatnya. Pada saat itu kelinci bertambah lelah dan mulutnya tambah mengeluh karena rute yang dilewatinya sangat jauh. Tapi akhirnya ia masih berlari dengan kakinya yang bergemetar.

Baca juga:   Podcast - Mata Pelajaran Indonesia Iso (Bisa) bersama Wulan Luthardt

Sebaliknya, kura-kura malah berlari dengan lebih segar dan mulutnya dipenuhi ucapan syukur karena sebentar lagi sudah sampai. Dan kemudian … Pats!  Garis finish terlewati. Para penonton menyambut sang pemenang dengan riuh. Dan wasit menyambut pemenang dengan ricuh. Wasit terkejut karena kelinci dan kura-kura sampai garis finish bersamaan. Kelinci memang tidak kalah oleh kura-kura, namun ia masih kesal dan stres.

Kemudian kelinci itu bertanya pada kura-kura, “Kenapa kamu tidak terlihat lelah dan bisa mengejarku?”. Kura-kura menjawab, “Ibuku bilang larilah dengan kencang, maka kamu perginya takkan jauh. Larilah dengan perlahan, maka kamu akan pergi jauh”. Kemudian kelinci itu bertanya lagi, “Lalu mengapa kamu tersenyum dan menikmati rute tersulit ini?”. Dengan wajah kura-kura yang berkarisma ia menjawab, “Ketika kamu berlari dengan perlahan maka kamu bisa melihat jelas keindahan-keindahan di sekitarmu”.

Kelinci itu bertanya sekali lagi, “Tapi ini kompetisi, kamu harus cepat, kamu tidak akan bahagia saat kalah bukan?”. Kura-kura membalas, “Aku tau kalau kamu lebih cepat dari aku, bisa saja aku kalah, hanya saja aku tidak mau mengkhawatirkan masa depanku.

Dan kadang dalam pikiranku aku menyesal dengan keputusanku menerima tantanganmu, tapi aku tidak mau menyesali masa lalu ku. Karena yang  ku punya hanyalah saat ini bukan masa depan maupun masa lalu jadi aku mencoba untuk berusaha semampuku dan berbahagia setiap saat menjalaninya”.

Cast:

  • Garis finish: Takdir/Rezeki Tuhan
  • Kelinci: Diri kita
  • Kura-kura: Diri kita
  • Keindahan ombak, kupu-kupu dan hembusan angin: Orang yang senantiasa mendukung kita,
    dan segala nikmat Tuhan yang ada disekitar kita
  • Dongeng ini terinspirasi dari:
  • García, H., & Miralles, F. (2017). Ikigai: The Japanese secret to a long and happy life.
  • Penguin.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button